Kamis, 07 Maret 2013

PANCASILA, Identitas Bangsaku

lomba blog pusaka indonesia 2013
                Memberanikan diri untuk mengikuti lomba ini bukan karena tak mampu tapi karena tak punya ide untuk ditulis.   Temanya berat dan tak populer.  Serasa harus berjuang untuk mengerti apa yang ingin dituangkan. Kata dan ide serasa menggelayut dan tak bisa tertuang.

                Setelah mencoba mencari  inspirasi, akhirnya timbul gagasan ide dari pertanyaan seorang teman facebooker, kebetulan juga seorang penulis bahkan telah menerbitkan buku antalogi. Dalam timeline  dia menuliskan hanya mampu beli  Compact Disc atau disebut CD bajakan. Mahalnya harga CD asli,  tak sesuai dengan kantongnya atau disebutkan tak sebanding lurus dengan pendapatannya.  Walaupun dia mengetahui bahwa akhirnya dia harus buang CD bajakan itu karena ketika dipasang kualitasnya sangat tak sesuai dengan harapannya.  Film dalam CD terpotong-potong dan tak jelas warna dan gambarnya.  Serba tak menyenangkan untuk dilihat. 

                CD adalah sebuah hasil karya seni, baik itu film atau lagu, pengetahuan   Karya seni yang dihasilkan oleh seorang seniman.   Harga dari karya  menjadi murah karena tak dihargai oleh konsumen maupun produsen yang mau mencari untung cepat mencari untung.   Bahkan untuk memuaskan konsumsi rakyat yang ingin membeli murah maka dengan mudah para pedagang yang tak mengetahui hak cipta dengan mudahnya membuat jiplakan atau bajakan.   Jika identitas karya seni  yang seharusnya dihargai tak lagi menjadi suatu identitas maka kita akan kehilangan identitas sebagai bangsa yang besar.   Kenapa?  Karena di dunia global atau di luar negeri semua hasil karya seni dibanggakan dan dihargai oleh bangsanya sendiri.  Mereka mempatenkan semua hasil seni ke dalam hak paten yang tak boleh sembarang pihak menjiplak.   Ada sanksi dan ada hukumannya atas penjiplakan atau plagiat.

                Ketika anak bangsa ini tak lagi bisa menghargai karya seni maka yang terjadi adalah para seniman pencipta karya seni tak mempunyai penghasilan yang memadai, bahkan akhirnya terjadi penciptanya akan hilang dari peredaran tanpa mendapatkan hasil.  Identitas bangsa akan hilang digantikan oleh identitas asing karena  dengan adanya era global barang siapa yang menghargai karya seninya merekalah yang memenangkan  pasar global.

                Kaitannya dengan PANCASILA,   di dalam sila ke 5 disebutkan keadilan sosial bagi setiap warga negara.   Tertuang makna bahwa keadilan sosial itu menghargai hak milik orang lain , tidak merugikan kepentingan orang lain dan menghargai karya orang lain.

                Sebagai seorang ibu, harapan saya agar penguatan identitas  para seniman ini dapat terus exist ditengah gempuran dari globalisme yang makin gencar,  semua anak bangsa dapat menghargai dan menggunakan karya seni yang asli dan tidak mencoba menjiplak atau membuat plagiat karya lain dan menjualnya.   Juga bagi konsumen diharapkan menghargai   kerja seni  yang merupakan identitas seniman dengan membeli yang asli walaupun mahal harganya.  Mungkin mencari cara bagaimana membeli harga mahal dengan sharing dengan teman-temannya atau dengan mencari dana sebelum membeli.

                Kembali kepada definisi jati diri.  Jati diri itu merupakan identitas bangsa.   Misalnya anak saya yang bersekolah dalam bidang Digital Design”.  Mendapat tugas untuk membuat profil pribadinya dalam sebuah web .   Begitu membuka webnya,  kita dapat mengetahui profil nya secara jelas seperti  siapa namanya,  bidang sekolahnya, portofolio dan dari mana hasil seninya dia dapatkan.

                Demikian juga dengan negara, harus mempunyai jati diri atau kepribadian atau identitas suatu bangsa.   Keberadaan identitas nasional dalam arus globalisasi dan multikultural harus dijaga ketat dan dipertahankan karena tanpa adanya penguatan maka  identitas bangsa akan hancur dan bangsa itu akan tak dikenal lagi sebagai bangsa di mata dunia luar.

                Fenomena yang terjadi ketika arus deras globalisasi dalam ekonomi yang melanda  Indonesia.     Banyak restoran menyajikan makanan dengan menu budaya barat.   Bahkan sampai minuman pun harus mengimport budaya barat.  Restoran yang dibuka dengan menu makanan atau minuman dengan sistem usaha franchise itu  disebut waralaba asing.  Menurut statistik dari Data assosiasi Franchise Indonesia pada tahun 2010, jumlah waralaba Indonesia termasuk asing 1500. Jumlah lokal 60% , jumlah asing 40%.  Namun dari segi omzet waralaba lokal jauh tertinggal yaitu hanya 30% dari 120 triliun atau sekitar 40 triliun.  Mengapa waralaba lokal jauh tertinggal, karena sistem manajemen yang belum dikuasai penuh dan modal yang tidak sebanding dengan waralaba asing. Jika hal ini dibiarkan berlarut maka waralaba lokal makin terpinggirkan.  Hal ini bukan sekedar masalah waralaba melawan waralaba atau yang disebut prinsip resiprokal, tetapi mencakup berbagai aspek terkait lebih luas , perlindungan usaha rakyat, identitas nasional.

                Kesedihan saya rasakan ketika beberapa kebudayaan yang menjadi jati diri atau identitas ikut tergilas dengan makin banyaknya kebudayaan yang masuk melalui media online , jejaring sosial karena globalisasi.    Kebudayaan seperti tarian daerah, pariwisata daerah tak mampu bersaing dengan tarian asing cepat sekali diterima oleh masyarakat, terlebih anak muda.   Nilai kebudayaan asli itu merupakan nilai budaya yang sangat penting. Jika tak dipertahankan, akan terbuang dan akhirnya negeri kita tak dipandang.  Bahkan ada negara lain yang dengan mudah mencaplok atau mengatas namakan budaya kita sebagai miliknya.

                Apakah kita lupa dengan arti dari sila ke 5 dari Pancasila?  Maknanya  yang tertuang sungguh jelas menghargai dan menghormati orang lain tapi bukan berarti melupakan dan tak menghargai milik bangsa sendiri.

               Sebaiknya identitas nasional dalam bidang ekonomi, budaya, pendidikan ditegakkan dan diperkuat dengan strategi yang jelas dan terarah:
1.       Membuat masakan atau menu dari hasil bangsa sendiri.
2.       Menumbuhkan rasa cinta dan bangga atas kreatifitas bangsa sendiri
3.       Menghargai perjuangan masakan bangsa sendiri dan menolak segala yang asing
4.       Mengadopsi  tapi tetap mempertahankan nilai luhur dari bangsa sendiri


Sebelum kita kehilangan identitas lebih baik kita berbenah diri dengan memperkuat identitas dalam era globalisasi ini supaya kita menjadi bangsa yang kuat dan bangsa yang besar.  Seperti dikatakan oleh Bung Karno: .."Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya sendiri".